Beehh... ada acara dialog, ada acara kajian, ada acara debat, ada acara temuwicara, ada di rumah, ada di kampus, ada di radio, ada di televisi. Semuamua ngomong, semuamua mengungkap, semuamua bawa bukti, semuamua mempertahankan pendapat. Satu jam tidak cukup, seharian tidak tutup. Ngomong apa sih? Bahas apa sih?
Udah ditunggu sampai akhir, udah dinanti sampai selesai, ketika pendapat bertemu pendapat, ketika fakta bertemu fakta, ketika semua diungkap, ketika semua dilihat massa. Sedikit sekali kesimpulan yang diambil, lebih sedikit lagi yang ditulis diingat-ingat, lebih sedikit lagi yang dikaji ulang, bahkan lebih sedikit lagi yang diserahkan pada yang bersangkutan, bahkan bisa jadi tidak ada satupun yang ditindaklanjuti.
Trus ngapain dialog, ngapain kajian, ngapain debat, ngapain temuwicara, kalau semua kesimpulan, semua harapan, semua solusi yang dicipta, diangan-angan bersama, justru dibuang begitu saja, sok-sok "diserahkan kepada Anda semua". Dan kita anggap "itu semua dapat menambah sesuatu bagi pemirsa" DOANG!
Apa bedanya ama ngegosip, kalau tidak ditindaklanjuti? Telepon kek ke yang bersangkutan, sms kek ke yang berhubungan, imel kek ke yang memerintah, ngeblog kek ngumpulin solusinya. Begitu acara selesai, solusi yang dibuat, kesimpulan yang dikumpulkan, menguap bagaikan ngantuk.
Tampilkan postingan dengan label All Seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label All Seni. Tampilkan semua postingan
Pengubur Potensi
Tak seperti supir truk super berat super lambat, mengalah ketika dikejauhan belakang ada yang lebih ringan lebih gesit, mendahulukan ketika di dekatnya ada yang lebih cepat lebih hebat, berusaha sadar diri bahwa kemampuan tidak sama rata sama tempurung. Justru yang kuasa membangun rencana masa depan, yang kuasa membimbing seluruh potensi langka sebagian dari calon-calon penerus bangsa, hanya memberi tujuan semu, hanya memberi harapan ragu. Alih-alih memberinya kesempatan didik yang lebih luas merata, alih-alih merencanakan bekal didik yang cepat mampat berguna, alih-alih mencetak manfaat didik yang bertujuan ekonomi dunia, mereka hanya seperti supir truk lambat pemegang palu, kertas, dan mulut saja.
Tamu adalah Seribu Rupiah Tiga Menit
Yah, begitulah kedengarannya. Andai saja ada pengusaha hotel bintang lima yang menginap di rumahku, andai saja ada pemilik mall terbesar di jakarta yang main ke rumahku, andai saja ada direktur bank ternama sekalipun yang mampir ke rumahku hanya sekitar tiga menit sekedar ambil uang di ATM di teras rumah, bagi semuanya ketika pulang mereka akan aku tarik seribu rupiah perjam tanpa malu-malu, walaupun mereka datang dan tidak jadi mampir, batal main, atau mengurungkan niat untuk menginap. Itulah tamu, yang bagi mereka adalah sesuatu yang tidak dihargai dan hanyalah pendatang pembawa seribu rupiah setiap mampir walaupun kurang dari tiga menit.
For Human Being a Creep
Ya iya lah for human being, emangnya monyet bisa ngetik, emangnya kuda bisa ngetik? Jelas-jelas buat teknologi manusia, emang buat sapa lagi, alien, hantu? Kalo tujuan umum dijadikan moto udah bener-bener ngga kreatif, dasar techie, dasar creep!
Coba liat yang lagi sibuk ngoprek, sibuk meraba-raba, sibuk tanya-tanya, sibuk cari tutorial. Semata-mata cuma mo bisa install, tapi disuguhi segepok command yang ngga manusiawi. Katanya for human being.
Coba orang gembel disuguhi layar hitam ada tulisan root@bangindonesia# di pojok kiri atas, bisa apa dia? Bahasa inggris ngga bisa trus ngapain dong? Mulai dari mana dong? Tanya? Pantesan free, orang bayarnya pas nanya. Freeq. Katanya for human being.
Jangan-jangan kalo kita mau eksekusi perintah: hosting application dengan opsi verification expert yang menjalankan modul special edition versi X dengan modus waiting, kemudian diberikan pada aplikasi thread hosting dengan opsi multiyield yang akan mengeluarkan banyak file output yang berawalan M, perintahnya jadi seperti ini:
Coba liat yang lagi sibuk ngoprek, sibuk meraba-raba, sibuk tanya-tanya, sibuk cari tutorial. Semata-mata cuma mo bisa install, tapi disuguhi segepok command yang ngga manusiawi. Katanya for human being.
Coba orang gembel disuguhi layar hitam ada tulisan root@bangindonesia# di pojok kiri atas, bisa apa dia? Bahasa inggris ngga bisa trus ngapain dong? Mulai dari mana dong? Tanya? Pantesan free, orang bayarnya pas nanya. Freeq. Katanya for human being.
Jangan-jangan kalo kita mau eksekusi perintah: hosting application dengan opsi verification expert yang menjalankan modul special edition versi X dengan modus waiting, kemudian diberikan pada aplikasi thread hosting dengan opsi multiyield yang akan mengeluarkan banyak file output yang berawalan M, perintahnya jadi seperti ini:
- sudo ha -ve se -X w th -my mo-M!
Osong komonG
SEmua lantas berbaris merayap. Semut2 itu pun mengerumuni madunya. Madu itu mulai meleleh karena panas. Maklum knalpot masih berasap. Kemudian kaki kiri menyentuh sedikit dan berteriak, "SOTOOOO...!!!". Si abang itu lewat dgn gerobaknya. Gerobak itu didorongnya dgn kedua tangan yg masih basah. Yg kanan masih memegang es krim. Yg 1 lagi masih ada busa sisa mencuci. Yg 1 lagi memegang hp kesayangannya. Yg 1 lagi berharap dapat kerja. Tidak masalah jika terus berusaha menggapai. Memang layang2 di tiang listrik sesekali bisa jatuh sendiri.
PEnyakit hati menghampiri seseorang yg berpangku tangan. Memang kadang lebih berat tangan kanan. Gelang yg keemasan jg masih melingkar di kotaknya. Bukan karena emas kemudian dipakainya di telinga. Tindiknya masih terlihat lubang di dasar laut. Kemudian aliran magma tidak terasa berputar bagai bianglala. Entah bagaimana ia bergerak kemudian kembali lagi dgn penumpangnya. Kereta itu tiada henti bolak balik kota ke kota. Walau dihampiri tetapi 5 menit saja. Cukup utk belanja nasi bungkus dan membayarnya, tunai. Sesuatu yg sgt berarti utk beratus kali waktu yg dipakai.
ADa kerumunan orang foto berdiri. Padahal yg duduk adalah mereka kecuali kamera saku di celana. Kemudian mereka berdiri dan kamera didudukkan supaya terlihat mereka duduk. Tetapi hasil yg dicapai adalah kelihatan mereka yg tidur berjejer. Tidak pula yg foto dan orang2 sekeliling yg lewat. Yg menawarkan jasa foto duduk dan berdiri. Jg yg memegang payung beramai-ramai menghampiri. Bahkan ketika hujan reda. Genangan air yg dilalui jg terlihat di kanan dan kiri. Mengingatkan adanya tsunami beberapa saat sblm sidang dimulai. Entah mengapa tepat sehari sblm. Terkadang pisau yg jatuh di genangan jg mencipratkan air sana sini.
"OBatnya?", "Glek aja langsung!", kata seorang anak bertanya pd bapaknya, kemudian bapaknya bertanya pd ibunya, kemudian ibunya bertanya kepada suaminya, kemudian suaminya bertanya pd cucunya. "Cobalah cu, susunlah 10 kata berikut ini kemudian jadikanlah itu sesuatu yg bermanfaat bagimu: kesehatan - setiap - harus - rokok - dan - jiwanya - alkohol - manusia - keselamatan - menjaga". Kemudian dicarinya ballpoin itu di lemari. Lembar demi lembar kertas diraihnya dan dicobakannya susunan yg tiada akhir. Dgn sadar semua orang mencoba mencoretkan beberapa kata pd keningnya. Kemudian berkeringat dan tertawa akan maksud apa2 yg pantas dilewatkan di dunia.
TIdak demikian ketika yg masih gelap benderang mulai mengais rejeki dgn imbalan energi. Tidak dihiraukan bulan bagaimana ia ditimpa, dihujani. Kemudian pd masanya tersiksa bagai dahaga di gurun fatamorgana es jeruk yg mengalir di meja2 para pelanggan resto. Sungguh terlihat adil bagi dasi2 yg bermanusia dgn sejuta kesempatan dan kuasa dalam meraih cita dan angan bagi kenikmatan silau mutiara di mata yg berprisma. Bukan muslihat para pesulap, para palsusionis, para korupsionis, dan para sokelitpolisionis. Tetapi pd dasarnya mereka beramai-ramai memakan segenggam tepung dgn sedikit tahu di goreng pedas. Berbagai kecap cap burung2 jg turut serta mengambil bagian dgn mengaku-ngaku yg paling jago. Padahal bukan ayam.
TErbukti! Gajah di seberang lautan dapat jg dilihat. Walau bagaimanapun benda dipelupuk mata berubah menjadi gelap. Kecuali ada orang lain yg melihat dan melihatkan. Kemudian meraba-raba agar tidak tertusuk sang gajah. Rumput pun jadi bahan perabaan. Kemudian mereka berdua dapat memilih rumput mana yg akan dicabutnya dan disimpan di tempat empuk agar lebih nyaman utk merebahkan diri. Gajah pun turut serta menikmati. Kemudian memanggil beberapa temannya termasuk segerombolan kodok dgn satu tempurung besar pemberian dari pak de kura2 yg sekarang sudah sedikit terbuka.
"PEnipu!", teriak sang maling ketika sang wajib mencoba merayunya di depan pembacasaja2 yg berkerumun di seluruh kota dgn harapan ada seekor semut yg sanggup menarik seekor kambing gelap dgn pelana dari tali pusar bayi dalam genggaman sang ibu. Semut tidak berdarah merah, Tuan!
PEnyakit hati menghampiri seseorang yg berpangku tangan. Memang kadang lebih berat tangan kanan. Gelang yg keemasan jg masih melingkar di kotaknya. Bukan karena emas kemudian dipakainya di telinga. Tindiknya masih terlihat lubang di dasar laut. Kemudian aliran magma tidak terasa berputar bagai bianglala. Entah bagaimana ia bergerak kemudian kembali lagi dgn penumpangnya. Kereta itu tiada henti bolak balik kota ke kota. Walau dihampiri tetapi 5 menit saja. Cukup utk belanja nasi bungkus dan membayarnya, tunai. Sesuatu yg sgt berarti utk beratus kali waktu yg dipakai.
ADa kerumunan orang foto berdiri. Padahal yg duduk adalah mereka kecuali kamera saku di celana. Kemudian mereka berdiri dan kamera didudukkan supaya terlihat mereka duduk. Tetapi hasil yg dicapai adalah kelihatan mereka yg tidur berjejer. Tidak pula yg foto dan orang2 sekeliling yg lewat. Yg menawarkan jasa foto duduk dan berdiri. Jg yg memegang payung beramai-ramai menghampiri. Bahkan ketika hujan reda. Genangan air yg dilalui jg terlihat di kanan dan kiri. Mengingatkan adanya tsunami beberapa saat sblm sidang dimulai. Entah mengapa tepat sehari sblm. Terkadang pisau yg jatuh di genangan jg mencipratkan air sana sini.
"OBatnya?", "Glek aja langsung!", kata seorang anak bertanya pd bapaknya, kemudian bapaknya bertanya pd ibunya, kemudian ibunya bertanya kepada suaminya, kemudian suaminya bertanya pd cucunya. "Cobalah cu, susunlah 10 kata berikut ini kemudian jadikanlah itu sesuatu yg bermanfaat bagimu: kesehatan - setiap - harus - rokok - dan - jiwanya - alkohol - manusia - keselamatan - menjaga". Kemudian dicarinya ballpoin itu di lemari. Lembar demi lembar kertas diraihnya dan dicobakannya susunan yg tiada akhir. Dgn sadar semua orang mencoba mencoretkan beberapa kata pd keningnya. Kemudian berkeringat dan tertawa akan maksud apa2 yg pantas dilewatkan di dunia.
TIdak demikian ketika yg masih gelap benderang mulai mengais rejeki dgn imbalan energi. Tidak dihiraukan bulan bagaimana ia ditimpa, dihujani. Kemudian pd masanya tersiksa bagai dahaga di gurun fatamorgana es jeruk yg mengalir di meja2 para pelanggan resto. Sungguh terlihat adil bagi dasi2 yg bermanusia dgn sejuta kesempatan dan kuasa dalam meraih cita dan angan bagi kenikmatan silau mutiara di mata yg berprisma. Bukan muslihat para pesulap, para palsusionis, para korupsionis, dan para sokelitpolisionis. Tetapi pd dasarnya mereka beramai-ramai memakan segenggam tepung dgn sedikit tahu di goreng pedas. Berbagai kecap cap burung2 jg turut serta mengambil bagian dgn mengaku-ngaku yg paling jago. Padahal bukan ayam.
TErbukti! Gajah di seberang lautan dapat jg dilihat. Walau bagaimanapun benda dipelupuk mata berubah menjadi gelap. Kecuali ada orang lain yg melihat dan melihatkan. Kemudian meraba-raba agar tidak tertusuk sang gajah. Rumput pun jadi bahan perabaan. Kemudian mereka berdua dapat memilih rumput mana yg akan dicabutnya dan disimpan di tempat empuk agar lebih nyaman utk merebahkan diri. Gajah pun turut serta menikmati. Kemudian memanggil beberapa temannya termasuk segerombolan kodok dgn satu tempurung besar pemberian dari pak de kura2 yg sekarang sudah sedikit terbuka.
"PEnipu!", teriak sang maling ketika sang wajib mencoba merayunya di depan pembacasaja2 yg berkerumun di seluruh kota dgn harapan ada seekor semut yg sanggup menarik seekor kambing gelap dgn pelana dari tali pusar bayi dalam genggaman sang ibu. Semut tidak berdarah merah, Tuan!
Indonesia 63rb?
Merdeka? katanya. isi kemerdekaan? katanya. negara lebih baik? katanya. negara malah mundur katanya? wacana basi
Enaknya sekarang bebas ngomong ini itu, sok menilai lebih baik padahal dia ngga membantu, sok menilai lebih buruk padahal dia ngga menolong, sok jadi pahlawan padahal dia ngomong doang, sok jadi nomer satu padahal yang lain juga ngaku2. wacana basa-basi
Naik angkot, rebutan. naik bis, rebutan. naik mobil, biayakan. naik motor, ugal2an. katanya sekolah? katanya haji? mana? jalur dua jadi tiga, marka tebas, rambu tebas, trotoar tebas. si wajib biasa maklum, si hukum biasa lewat. bukti basi
Terima kado dikira korupsi, terima bonus dikira korupsi, terima parsel dikira korupsi, terima hadiah dikira korupsi. bisanya main kira2, main tuduh, main ancam, main tangkap. ngakunya ngga tebang pilih, ngakunya ngga pandang bulu. jelas2 ada ribuan pelaku korupsi jalanan, retribusi tapi masuk kantong sendiri, korupsi tapi masyarakat cuek, ada mafia tapi dibiarkan pemerintah. yang ngaku memberantas masih mau berantas ribuan tukang parkir? bukti basa-basi
Ancaman bencana katanya di mana2. ancaman lingkungan katanya di mana2. mana masyarakat tahu kalo itu ancaman padahal ngga pernah disosialisasi. mana masyarakat ngerti kalo itu bahaya padahal ngga diperingatkan. boro2 mikir bencana, mikir peta bencana, mikir rencana hindar bencana, mikir evakuasi, malah sibuk mikir meloloskan proyek buat antek2 bekas tim sukses mereka kemarin, malah sibuk mikir menyetujui kebijakan dari antek2 partai bekas pendukung mereka kemarin. pemimpin basa-basi
Listrik? minyak? beras? air bersih? semua jarang, semua langka. bukankah seharusnya sudah cukup pengalaman untuk mengatasinya? bukankah seharusnya sudah punya rencana untuk ke depannya? bukankah seharusnya sudah cukup umur untuk menjadi lebih baik? bukankah semestinya sudah menjadi sangat baik dengan pengalaman, umur, dan rencana yang dimiliki? ke mana saja bung? sudah tua masih merangkak juga? pln telat berkembang, pertamina baru mau berkembang, pertanian ingin lagi berkembang, pdam mimpi berkembang. pemimpin basi
Ajang olah raga dunia, ikut. ajang kompetisi dunia, ikut. ajang unjuk gigi dunia, ikut. ajang pemanasan global, ikut. mana ajang perbaikan ekonomi rakyat kecil? mana ajang pemberian infak? iklan terus sampe mampus, sementara yg lain sibuk sndiri. mana ajang tertib di jalan? mana ajang merawat fasilitas umum? lupa terus sampe mampus, sementara yang lain ngga peduli. ikut-ikut basa-basi
Nurutin kontrak alasan ekonomi, dilupakan. Nambahin kontrak alasan ekonomi, dibiarkan. jadi kapan negara punya fasilitas sendiri? terus kapan negara punya pemasukan sendiri? semuamua disedot keluar, diambil keluar. kabinet baru membiarkan, manajer baru melupakan. bukannya seharusnya kita bisa usaha sendiri? bukannya seharusnya kita bisa menggunakan sda untuk sendiri? bangun kek buat kita, buat negara. ikut-ikutan basa-basi
Jelang pemilu partai unjuk gigi, para tokoh unjuk gigi. siapa dia atau basa basi? jelas2 keputusan dirapatkan, jelas2 kesimpulan dilobikan. ditanya ini jawabannya sok pasti, ditanya itu jawabannya sok tau. lihat saja mimik basa-basinya. padahal jelas2 belum kecemplung di dalamnya, padahal jelas2 masih di luar cangkang semua. ngomong basa-basi
Impian sejahtera masih jauh teman, impian makmur masih tinggi kawan. jangan harap bisa terwujud di dekade depan. jangan harap bisa dibangun mulai taun depan. untuk yang mempunyai rencana mulia, untuk yang memiliki cita2 mulia, jangan tunggu negara jadi lebih solek, jangan tunggu negara jadi lebih baik. mungkin rencana itulah yang membuat negara ini jadi lebih solek, mungkin cita2 itulah yang membuat negara ini jadi lebih baik. jangan tunggu basi
Nunggu negara lbh baik? kapan? bukannya ada prosesnya? ada jadwalnya? ada rencananya? ada niatnya? padahal tiap lima taun ada saja pergantian niat, pergantian rencana, pergantian jadwal, dan pergantian proses. padahal tiap lima tahun ada saja gengsi untuk melanjutkan impian pimpinan sebelumnya. sok indonesia baru lah, sok lebih baik lah, tapi ngga pernah punya misi nerusin yang sudah akan membaik. bangun rumah blm jd udah dibongkar lagi. blom sempat basi
Ga tahu mulai dari mana? lihat saja buang bungkus permen ke mana untuk tahu nasionalismenya. lihat saja cara mengemudi kendaraannya untuk tahu sholatnya. liat saja kamar mandinya untuk tahu manajemennya. mau jadi manusia basi?
Enaknya sekarang bebas ngomong ini itu, sok menilai lebih baik padahal dia ngga membantu, sok menilai lebih buruk padahal dia ngga menolong, sok jadi pahlawan padahal dia ngomong doang, sok jadi nomer satu padahal yang lain juga ngaku2. wacana basa-basi
Naik angkot, rebutan. naik bis, rebutan. naik mobil, biayakan. naik motor, ugal2an. katanya sekolah? katanya haji? mana? jalur dua jadi tiga, marka tebas, rambu tebas, trotoar tebas. si wajib biasa maklum, si hukum biasa lewat. bukti basi
Terima kado dikira korupsi, terima bonus dikira korupsi, terima parsel dikira korupsi, terima hadiah dikira korupsi. bisanya main kira2, main tuduh, main ancam, main tangkap. ngakunya ngga tebang pilih, ngakunya ngga pandang bulu. jelas2 ada ribuan pelaku korupsi jalanan, retribusi tapi masuk kantong sendiri, korupsi tapi masyarakat cuek, ada mafia tapi dibiarkan pemerintah. yang ngaku memberantas masih mau berantas ribuan tukang parkir? bukti basa-basi
Ancaman bencana katanya di mana2. ancaman lingkungan katanya di mana2. mana masyarakat tahu kalo itu ancaman padahal ngga pernah disosialisasi. mana masyarakat ngerti kalo itu bahaya padahal ngga diperingatkan. boro2 mikir bencana, mikir peta bencana, mikir rencana hindar bencana, mikir evakuasi, malah sibuk mikir meloloskan proyek buat antek2 bekas tim sukses mereka kemarin, malah sibuk mikir menyetujui kebijakan dari antek2 partai bekas pendukung mereka kemarin. pemimpin basa-basi
Listrik? minyak? beras? air bersih? semua jarang, semua langka. bukankah seharusnya sudah cukup pengalaman untuk mengatasinya? bukankah seharusnya sudah punya rencana untuk ke depannya? bukankah seharusnya sudah cukup umur untuk menjadi lebih baik? bukankah semestinya sudah menjadi sangat baik dengan pengalaman, umur, dan rencana yang dimiliki? ke mana saja bung? sudah tua masih merangkak juga? pln telat berkembang, pertamina baru mau berkembang, pertanian ingin lagi berkembang, pdam mimpi berkembang. pemimpin basi
Ajang olah raga dunia, ikut. ajang kompetisi dunia, ikut. ajang unjuk gigi dunia, ikut. ajang pemanasan global, ikut. mana ajang perbaikan ekonomi rakyat kecil? mana ajang pemberian infak? iklan terus sampe mampus, sementara yg lain sibuk sndiri. mana ajang tertib di jalan? mana ajang merawat fasilitas umum? lupa terus sampe mampus, sementara yang lain ngga peduli. ikut-ikut basa-basi
Nurutin kontrak alasan ekonomi, dilupakan. Nambahin kontrak alasan ekonomi, dibiarkan. jadi kapan negara punya fasilitas sendiri? terus kapan negara punya pemasukan sendiri? semuamua disedot keluar, diambil keluar. kabinet baru membiarkan, manajer baru melupakan. bukannya seharusnya kita bisa usaha sendiri? bukannya seharusnya kita bisa menggunakan sda untuk sendiri? bangun kek buat kita, buat negara. ikut-ikutan basa-basi
Jelang pemilu partai unjuk gigi, para tokoh unjuk gigi. siapa dia atau basa basi? jelas2 keputusan dirapatkan, jelas2 kesimpulan dilobikan. ditanya ini jawabannya sok pasti, ditanya itu jawabannya sok tau. lihat saja mimik basa-basinya. padahal jelas2 belum kecemplung di dalamnya, padahal jelas2 masih di luar cangkang semua. ngomong basa-basi
Impian sejahtera masih jauh teman, impian makmur masih tinggi kawan. jangan harap bisa terwujud di dekade depan. jangan harap bisa dibangun mulai taun depan. untuk yang mempunyai rencana mulia, untuk yang memiliki cita2 mulia, jangan tunggu negara jadi lebih solek, jangan tunggu negara jadi lebih baik. mungkin rencana itulah yang membuat negara ini jadi lebih solek, mungkin cita2 itulah yang membuat negara ini jadi lebih baik. jangan tunggu basi
Nunggu negara lbh baik? kapan? bukannya ada prosesnya? ada jadwalnya? ada rencananya? ada niatnya? padahal tiap lima taun ada saja pergantian niat, pergantian rencana, pergantian jadwal, dan pergantian proses. padahal tiap lima tahun ada saja gengsi untuk melanjutkan impian pimpinan sebelumnya. sok indonesia baru lah, sok lebih baik lah, tapi ngga pernah punya misi nerusin yang sudah akan membaik. bangun rumah blm jd udah dibongkar lagi. blom sempat basi
Ga tahu mulai dari mana? lihat saja buang bungkus permen ke mana untuk tahu nasionalismenya. lihat saja cara mengemudi kendaraannya untuk tahu sholatnya. liat saja kamar mandinya untuk tahu manajemennya. mau jadi manusia basi?
Puisi 4x4
Pun dia, pun mereka, pun yang baru, pun yang lama, sama saja. Mengganggap rumusan itu benar 4 dengan 4 padahal jauh dari tepat. Mengganggap campurannya itu menarik tetap dengan tetap padahal dihitungnya tidak sama. Kemudian diteruskannya kepada pensil, kepada kertas, kepada ketik, kepada mata-mata yang menelusuri. Kemudian diteruskannya kepada buku dan anak cucu. Tetap seakan itu rumusan baku. Bukan, bisa lebih dari itu. Kata-kata itu banyak, sebanyak air dibanding ikan, sebanyak langit dibanding awan. Jangan kita kurung mereka pada persegi 4 dengan 4. Mereka sudah bosan!
^_^
^_^
Langganan:
Postingan (Atom)